Sosial Diposting 15 Oktober 2026 Super Admin

Dari Lele Berharga Rendah Menjadi Produk Bernilai Tambah, KDD Desa Nanggela Kembangkan Usaha Kerupuk Ikan Lele

Dari Lele Berharga Rendah Menjadi Produk Bernilai Tambah, KDD Desa Nanggela Kembangkan Usaha Kerupuk Ikan Lele

Kabupaten Cirebon 8 Oktober 2026 - Kelompok Difabel Desa (KDD) Nanggela mengembangkan usaha kerupuk ikan lele dengan memanfaatkan potensi dari usaha budidaya lele yang sebelumnya didukung melalui anggaran desa. Inisiatif ini menjadi upaya untuk meningkatkan nilai tambah hasil budidaya sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi anggota kelompok.

Usaha bermula dari budidaya ikan lele. Namun, ketika ikan tumbuh terlalu besar, harga jualnya cenderung lebih rendah. Kondisi tersebut mendorong anggota KDD untuk mencari alternatif agar lele yang dihasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Dari persoalan tersebut, KDD Desa Nanggela mengembangkan ide pengolahan ikan lele menjadi kerupuk.

Pertemuan Rutin Menumbuhkan Modal Usaha

Selain memanfaatkan potensi budidaya lele, KDD Desa Nanggela membangun kekuatan kelompok melalui pertemuan rutin setiap dua bulan sekali.

Pertemuan tersebut mendapatkan dukungan pembiayaan dari Program SOLIDER melalui Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC). Dalam pengelolaannya, sebagian anggaran konsumsi yang dikelola KDD disisihkan dan dikumpulkan menjadi kas kelompok.

Kas tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai modal untuk mengembangkan usaha kerupuk ikan lele.

Praktik ini memperlihatkan bagaimana kebersamaan anggota dan pengelolaan keuangan kelompok dapat menjadi salah satu fondasi pengembangan usaha produktif.

Pendampingan untuk Memperkuat Usaha

Dalam proses pengembangan usaha, KDD Desa Nanggela mendapatkan pendampingan dari FKDC, mitra SIGAB Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia - Indonesia melalui Program INKLUSI.

Pendampingan diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha, termasuk menjaga kualitas produk, memperbaiki pengemasan, mengelola keuangan, dan memperluas pemasaran.

Meski masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi produksi dan memperluas pasar, anggota KDD terus belajar mengembangkan usaha secara bertahap.

Dari Potensi Desa Menuju Kemandirian

Kisah KDD Desa Nanggela menunjukkan bahwa dukungan anggaran desa untuk budidaya lele dapat menjadi titik awal pengembangan potensi ekonomi. Ketika muncul persoalan harga jual, kelompok berupaya mencari solusi melalui pengolahan hasil budidaya menjadi produk bernilai tambah.

Ditambah dengan pengelolaan kas kelompok dan pendampingan, usaha kerupuk ikan lele menjadi ruang belajar bagi anggota KDD untuk memperkuat kerja sama, mengembangkan keterampilan, dan membangun kemandirian ekonomi.

Dari dukungan anggaran desa, tumbuh potensi. Dari persoalan, lahir inovasi. Dari kebersamaan, dibangun jalan menuju kemandirian.

Kisah praktik baik UMKM KDD Desa Nanggela dapat disaksikan melalui YouTube: https://youtu.be/-iWri7Fg5DA

 

Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC)

Mitra SIGAB Indonesia, dengan dukungan Pemerintah Australia–Indonesia melalui Program INKLUSI.

0 komentar

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.
Sebelumnya KDD BELAWA JADI RUANG TUMBUH BERSAMA: DARI BERBAGI PERAN HINGGA MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI DIFABEL Selanjutnya “DARI KEPEDULIAN MENJADI AKSI: YUYUN KUSUMAWATI, PEMIMPIN PEREMPUAN PENGGERAK INKLUSI DI LEMAHABANG”